....欢 迎 您 在 puksipuksi.blogspot.com............WELCOME at PUKSIPUKSI.BLOGSPOT.COM....

Tuesday, May 10, 2011

Makalah: Sejarah Orang Tionghoa di Indonesia


I. Kedatangan orang Tionghoa di Indonesia

Latar belakang

Bila sekarang kita lihat, terdapat banyak sekali warga negara Indonesia keturunan Tionghoa. Mereka adalah keturunan dari orang-orang Tionghoa yang sejak dulu telah merantau ke Nusantara. Banyak sekali orang Tionghoa yang datang ke Indonesia. Tentu terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi orang-orang Tionghoa tersebut sehingga membuat mereka tertarik untuk datang ke Nusantara.

- Faktor-faktor yang mempengaruhi
▄ Faktor yang mendorong dari intern Tionghoa
Keadaan di Tionghoa pada saat itu sangat tidak baik. Tionghoa merupakan daerah yang miskin sehingga banyak bandit-bandit dan banyak terjadi tindak kriminal. Selain itu sering terjadi bencana kelaparan dan bencana alam. Ditambah lagi terjadi Perang Candu. Setelah Perang Candu, keadaan Tionghoa semakin tidak baik. Tionghoa merupakan daerah yang tidak aman terutama bagi golongan rakyat jelata. Karena rakyat jelata tidak dapat melakukan apapun untuk menghindar dari keadaan tersebut. Mereka hanya bisa pergi dari Tionghoa dan mencari tempat yang baru yang lebih baik bagi kehidupan mereka. Mereka ingin mencari daerah yang lebih aman dan daerah yang baru untuk berdagang, untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Hal ini didukung oleh pemerintah Tionghoa yang mengizinkan rakyatnya untuk bermigrasi. Keinginan mereka untuk bermigrasi juga didorong oleh transportasi di Tionghoa yang semakin lancar, contoh: kapal uap.
▄ Faktor yang menarik dari Indonesia
Orang Tionghoa banyak mendengar kabar bahwa di Nusantara banyak terdapat sumber daya alam, seperti pertambangan dan pertanian yang membutuhkan tenaga manusia untuk mengolahnya, sedangkan di Nusantara sendiri belum mengolah sumber-sumber tersebut. Nusantara dilihat sebagai daerah yang masih “perawan” untuk dijelajahi dan daerah yang menyimpan banyak kekayaan yang belum digali. Nusantara, karena letaknya yang strategis, waktu itu adalah daerah yang sering disinggahi oleh pedagang-pedagang dari luar Nusantara, seperti pedagang dari India, Persia dan Arab. Kehidupan di Indonesia dianggap lebih baik daripada di Tionghoa dan memberi harapan yang cerah sehingga menarik orang-orang Tionghoa untuk datang dan membuka usaha di Nusantara.

Bilamana orang Tionghoa datang ke Indonesia

Tahun 400 Masehi, seorang pendeta Tionghoa singgah di Indonesia dalam perjalanan pulang dari India ke Tionghoa. Mungkin setelah singgah di Indonesia, dia mengabarkan tentang Nusantara di Tionghoa dan ditambah lagi dengan berita yang dibawa oleh Faxian dan Yixinq. Setelah itu, banyak pedagang Tionghoa mulai berdatangan ke Indonesia, misalnya saja sejak jaman dinasti Song (420-479) banyak terjadi transaksi perdagangan dengan pedagang di Nusantara. Tidak hanya pedagang-pedagang dari dinasti Song saja, tapi pedagang-pedagang dan orang-orang dengan profesi yang beragam dari generasi berikutnya terus berdatangan ke Nusantara sampai sekarang.

Bagaimana orang Tionghoa datang ke Indonesia

Tionghoa merupakan daerah yang tidak dekat dengan Nusantara, apalagi pada jaman dahulu tidak ada pesawat yang bisa membuat jarak yang jauh terasa dekat. Dalam perjalanan ke Nusantara, satu-satunya cara yang dapat diambil adalah melalui laut. Mereka datang dengan menggunakan kapal laut dan kebanyakan dari mereka tiba pertama kali di teluk Sunda Kelapa, baru setelah itu mulai berpencar.

Asal daerah

Orang-orang Tionghoa datang ke Indonesia melalui jalan laut. Hal ini berarti penduduk Tionghoa yang berada di dekat lautlah yang dapat lebih mudah berlayar ke Nusantara. Daerah-daerah yang dekat laut adalah daerha-daerah di bagian selatan Tionghoa. Mereka kebanyakan datang dari daerah-daerah di Tionghoa bagian selatan, seperti Fujian dan Guangdong. Orang-orang dari Fujian ini lebih dikenal di Indonesia dengan sebutan Hokkian dan orang dari Guangdong ini lebih dikenal dengan sebutan Kanton.

Siapa dan dari golongan mana orang Tionghoa yang datang ke Indonesia

Mayoritas orang-orang Tionghoa yang datang ke Nusantara adalah golongan petani miskin atau rakyat jelata yang tidak memiliki kedudukan apapun. Mereka adalah orang-orang yang tidak berkesempatan untuk mendapat pendidikan, sehingga mereka tidak dapat meningkatkan taraf hidup mereka. Mereka adalah orang-orang yang hanya memiliki kemampuan untuk bekeja kasar, seperti bertani dan bertukang. Orang-orang ini kebanyakan laki-laki yang berasal dari suku Hokkian, Kanton, Hakka dan Tiociu yang ingin mencari penghidupan yang lebih baik. Mereka ini, seperti telah disebutkan, berasal dari daerah selatan di Tionghoa. Mereka tidak datang bersama keluarganya, biasanya mereka (laki-laki) datang sendiri, mungkin dengan teman-temannya, karena tujuannya adalah untuk bekerja mencari nafkah. Biasanya, jika sudah berkeluarga, keluarganya ditinggal di Tionghoa, tapi tetap diberi nafkah.

Menetap di mana

Orang Hakka yang datang ke Nusantara pada umumnya menetap di Kalimantan Barat. Orang Kanton banyak yang memilih untuk menetap di pantai timur Sumatra, Sumatra Selatan, Kalimantan dan Sulawesi. Orang Tiociu kebanyakan menetap di pantai timur Sumatra, Riau, Jambi, Indragiri dan Pontianak. Mayoritas orang Hokkian menetap di Bagan Siapi-api, pantai timur Sumatra, Jawa Barat dan Jakarta.

II. Kehidupan orang Tionghoa di Indonesia

A. Kehidupan sosial-budaya
Sebelum kita membicarakan mengenai kehidupan sosial dan budaya orang-orang Tionghoa di Indonesia, ada baiknya dibahas secara singkat mengenai Tionghoa peranakan dan Tionghoa totok. Di dalam orang-orang Tionghoa yang menetap di Indonesia, ada yang disebut Tionghoa peranakan dan ada yang disebut Tionghoa totok. Berikut akan dipaparkan mengenai keduanya.
Tionghoa peranakan :
Orang Tionghoa yang orientasi kebudayaannya berintikan kebudayaan setempat, di rumah menggunakan bahasa setempat., mengalami proses akulturasi yang mendalam dengan kebudayaan di mana mereka dilahirkan dan dibesarkan, biasanya tapi tidak selalu WNI dan lahir di Indonesia, biasanya tapi tidak selalu dilahirkan dari perkawinan campuran (ayah Tionghoa, ibu Indonesia), berdasarkan ras mereka bukan orang Tionghoa lagi.
Tionghoa totok :
Orang Tionghoa yang orientasi kebudayaannya berintikan kebudayaan Tionghoa, di rumah menggunakan bahasa Tionghoa, pernah sekolah di sekolah Tionghoa, mempunyai hubungan kerabat atau dagang dengan orang Tionghoa lain di Indonesia, biasanya tapi tidak selalu WNA, bisa dilahirkan di luar RI tetapi juga bisa di RI.


a. Kebudayaan, adat-istiadat dan kebiasaan
Orang-orang Tionghoa yang datang ke Nusantara kemudian menetap, lambat laun berbaur dengan orang-orang di Nusantara. Ada di antara mereka yang menikah dengan wanita Nusantara dan ada yang tetap memilih untuk menikahi wanita Tionghoa. Kebudayaan orang-orang Tionghoa yang datang dan menetap di Nusantara lambat laun mulai bercampur dengan kebudayaan daerah yang mereka tinggali. Misalnya saja pakaian dan adat perkawinan mereka. Kebudayaan mereka tetap dipertahankan namun secara tidak disadari mendapat pengaruh dari kebudayaan setempat sehingga menghasilkan kebudayaan baru. Ciri khas kebudayaan mereka tetap tampak, tapi diwarnai dengan kebudayaan setempat.

b. Pendidikan

Di antara orang-orang Tionghoa yang menetap di Hindia, terdapat orang-orang Tionghoa yang merasa membutuhkan pendidikan. Umumnya, Tionghoa peranakan tidak merasa terarik untuk mengenyam pendidikan yang tinggi, mereka hanya mementingkan bagaimana agar mendapatkan uang. Bagi mereka, tidak punya pendidikan tapi memiliki banyak uang tidak apa-apa. Tapi di antara mereka terdapat juga orang Tionghoa yang ingin anaknya belajar di sekolah. Pemerintah Belanda tidak merasa wajib menyediakan pendidikan bagi orang-orang Tionghoa. Pemerintah Belanda waktu itu melarang orang-orang Tionghoa utnuk sekolah di sekolah-sekolah Belanda. Maka akhirnya mereka mendirikan sekolah sendiri. Kemudian didirikanlah THHK (Tiong Hoa Hwei Kuan) untuk memaksa Belanda mendirikan sekolah bagi Tionghoa peranakan. Sekolah-sekolah THHK mengajarkan kebudayaan dan Konfusius serta menggunakan bahasa Tionghoa dalam pelajaran, tapi kemudian ajaran-ajaran Konfusius mulai ditinggalkan dan sekolah-sekolah ini memakai buku-buku teks yang lebih sederhana. Setelah sekolah Belanda akhirnya dibuka untuk umum, sekolah-sekolah THHK tidak lagi diminati oleh Tionghoa peranakan sendiri karena masa depan lulusan sekolah Belanda lebih cerah. Waktu itu terdapat lima kelompok dalam masyarakat Tionghoa, yaitu:
1. orang kaya dan kelas menengah yang ingin terus hidup di Hindia dan ingin lebih meningkatkan pendidikan
2. Tionghoa peranakan miskin yang ingin terus hidup di Hindia dan cukup puas dengan kemampuan baca tulis bahasa Melayu
3. Tionghoa peranakan nasionalis yang menginginkan anaknya kelak dapat membantu Tionghoa
4. Tionghoa peranakan dan Tionghoa totok yang ingin mempertahankan identitasnya tapi merasa bahasa Tionghoa tidak dapat membuat mereka makmur
5. Tionghoa totok yang ingin kembali ke Tionghoa
Akhirnya sekolah-sekolah yang didirikan oleh Tionghoa peranakan mulai diambil alih oleh Tionghoa totok karena Tionghoa peranakan tidak memiliki biaya untuk meneruskan sekolah-sekolah itu dan karena kebanyakan orang Tionghoa peranakan ingin sekolah di sekolah-sekolah Belanda, sedangkan Tionghoa totok menginginkan pendidikan di sekolah-sekolah yang masih bergaya Tionghoa. Pada perkembangannya di tahun 1957, sekolah-sekolah Tionghoa dianggap oleh pemerintah Indonesia sebagai sekolah asing. Menteri Pendidikan mengeluarkan peraturan bahwa sekolah Tionghoa beserta gurunya harus mendapat izin dari Depatemen Pendidikan Nasional dan tidak diperbolehkan adanya sekolah baru yang didirikan dan warga negara Indonesia dilarang masuk sekolah itu. Hal ini dipengaruhi oleh adanya anggapan bahwa orang Tionghoa adalah antek-antek komunis.Tapi akhirnya anggapan ini berubah dan sekolah-sekolah yang dianggap sekolah Tionghoa dinasionalisasikan dan siapapun boleh bersekolah di situ.


c. Pola tempat tinggal
Orang-orang etnis Tionghoa di Indonesia terkonsentrasi di daerah perkotaan, terutama kota besar. Pola pemukiman ini terbentuk karena peraturan pemerintah Belanda. Tahun 1816 dikeluarkan peraturan surat jalan, yang menharuskan orang-orang Tionghoa memperoleh ijin untuk tiap kepertgian. Pada tahun 1854 semua orang Tionghoa harus tinggal di daerah-daerah tertentu di kota tertentu. 1870 dikeluarkan UU Agraria yang melarang orang-orang yang bukan pribumi untuk memiliki tanah pertanian. Gejolak sospol pada Perang Dunia II dan Revolusi Kemerdekaan RI mengakibatkan eksodus besar2an dari desa ke kota. PP 10 tahun 1959-1960 orang tionghoa asing di Jawa tidak diperbolehkan berusaha di tingkat di bawah kabupaten. Pada tahun 1973, orang Tionghoa asing dan orang Tionghoa WNI terkonsentrasi di Kal bar dengan konsentrasi terbesar di Pontianak, DKI Jakarta, Jatim-konsentrasi di Surabaya, Sumut-konsentrasi di Medan, Sumsel-konsentrasi di Palembang. Pengelompokan ini menjadikan golongan tersebut sangat menyolok di daerah-daerah padat tertentu dan mengesankan jumlah orang-orang etnis Tionghoa yang jauh lebih besar daripada keadaan sebenarnya. Oleh karenanya mereka sangat rawan dan mudah dijadikan sasaran tindakan2 kekerasan pada saat2 tercetusnya gejolak2 sosial, ekonomi dan politik.

B. EKONOMI


Mata pencaharian dan etos kerja

Konsentrasi tempat tinggal orang Tionghoa mengakibatkan pengelompokan dalam jenis-jenis pekerjaan yang bersifat perkotaan. Hal itu disebabkan oleh UU Agraria, yang melarang orang asing dan keturunan asing memiliki tanah pertanian, dan karena sampai tahun 1913 mereka tidak dapat mengikut ujian pegawai-pegawai negeri sehingga tidak dapat menjadi pegawai negeri. Sejak kedatangan dan berkuasanya orang Belanda, terutama di Pulau Jawa, orang Tionghoa digunakan sebagai perantara dagang antara Belanda dan orang Indonesia. Orang Indonesia sebagai produsen hasil bumi. Orang Tionghoa juga sebagai tukang-tukang untuk membuat dan memelihara rumah-rumah dan kota-kota yang orang-orang Belanda dirikan. Selain berperan dalam perdagangan, orang Tionghoa juga berperan dalam ekonomi lainnya seperti pertambangan, perkebunan, pertanian sawah serta sayur mayur. Perkembangan selanjutnya, ada perubahan pola kegiatan ekonomi, terutama pada Tionghoa peranakan. Perbandingan tahun 1930 dan 1956, orang Tionghoa yang dilahirkan di Indonesia, persentase dalam perdagangan kurang lebih konstan, sedangkan para profesional (dokter, insinyur, dokter gigi) bertambah hampir dua kali lipat. Orang Tionghoa di Indonesia tetap memegang peranan penting dalam kehidupan ekonomi, meskipun sudah ada diversifikasi di luar bidang perdagangan perantara dan di luar bidang perekonomian belaka.


C. Politik
Orientasi politik warga keturunan Tionghoa
Orang Tionghoa, baik peranakan maupun totok, sebenarnya tidak terlalu tertarik tentang masalah politik di Indonesia dan tidak ingin bergabung dengan organisasi politik yang ada di Indonesia. Organisasi politik Indonesia sendiri tidak mengkategorikan Tionghoa peranakan dan Tionghoa totok sebagai anggota yang layak. Mereka, kalaupun ada yang bergabung dalam partai, hanya dianggap sebagai simpatisan saja. Hal ini disebabkan oleh tujuan dari partai-partai atau organisasi-organisasi tersebut adalah untuk melindungi pribumi dari orang-orang Tionghoa, contohnya SI (Sarekat Islam). ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging), sebuah organisasi yang ingin menyatukan tiap ras yang ada di Indonesia, sebenarnya ingin merekrut orang Tionghoa peranakan dan Tionghoa totok, tapi gagal. Ini karena kebanyakan Tionghoa peranakan dan Tionghoa totok adalah pedagang dan tidak tertarik dengan gerakan radikal ISDV. Walaupun ISDV sudah berubah menjadi PKI, mereka tetap tidak berminat karena mereka hanya ingin ketentraman dalam berdagang. Karena orang Tionghoa dianggap orang kaya, jadi banyak pribumi yang umumnya tidak kaya protes menentang orang Tionghoa. Orang Tionghoa semakin sulit masuk ke dalam partai. Jika ada orang Tionghoa yang nasionalis, ia tidak dapat membuktikan kesetiaannya pada Indonesia dan akhirnya kecewa. Hal inilah yang membuat adanya jurang pemisah antara orang Tionghoa dan orang Indonesia. Namun, di antara partai-partai yang menolak oran Tionghoa, Gerindo menerima orang Tionghoa sebagai anggotanya
Gerakan nasionalis Indonesia yang tampak dari pembentukan organisasi atau partai cenderung untuk tidak memasukkan orang-orang Tionghoa dalam usaha membebaskan Indonesia dari penjajahan Jepang dan Belanda karena perasaan komune yang sangat kuat. Orang Tionghoa pun memiliki perasaan komune yang sama dan inilah yang menyebabkan adanya keterpisahan antara orang-orang Tionghoa di Indonesia dan orang-orangpribumi. Walaupun ada partai Tionghoa peranakan, tetapi tidak dianggap sebagai partai orang Indonesia oleh kebanyakan pribumi. Pribumi tidak menganggap orang-orang Tionghoa sebagai bagian dari orang Indonesia.


Status kewarganegaraan

Terdapat kekaburan dan ketidaktepatan mengenai status hukum maupun status sosial masyarakat Tionghoa dalam masyarakat luas. Kekaburan ini saya rasa disebabkan oleh anggapan “orang Tionghoa bukan orang Indonesia” sejak awal. Hal ini terutama dialami oleh keturunan dari mereka yang menanggalkan kewarganegaraan RRC sesuai perjanjian dwikewarganegaraan Chou-Soenario yang berlangsung dari Januari 1960 sampai Januari 1962. Pada saat itu anak-anak yang belum dewasa mengikuti orangtuanya dan nama mereka tercantum dalam dokumen orang tuanya. Ketika mencapai umur dewasa mereka diharuskan mempunyai dokumen tersendiri. Tidak jelas apakah hal ini menurut peraturan yang berlaku, dan sebuah masalah lainnya ialah bahwa memperoleh surat terpisah itu membawa ongkos-ongkos yang tidak sedikit. Dapat dipertanyakan apakah hal ini juga harus dilakukan oleh anak dari anak (cucu) dari orang yang pertama menanggalkan kewarganegaraan RRC itu, sehingga turun-temurun tiap generasi harus mempunyai bukti kewarganegaraan Indonesianya. Kalau tindakan ini dibenarkan dan diteruskan, maka seorang keturunan asing (Tionghoa) secara turun-temurun tetap diperlakukan seakan-akan “sekali keturunan asing, tetap keturunan asing.” Seorang keturunan asing selalu diingatkan bahwa ia keturunan asing dan selalu harus mempunyai dokumen khusus untuk membuktikan kewarganegaraannya.

No comments:

Post a Comment