....欢 迎 您 在 puksipuksi.blogspot.com............WELCOME at PUKSIPUKSI.BLOGSPOT.COM....

Tuesday, May 3, 2011

Guanxi (关系)Dalam Jaringan Bisnis Cina

Guanxi (关系)Dalam Jaringan Bisnis Cina

(Oleh: Bai Faze)

I. Pendahuluan

I.1 Latar Belakang

Orang-orang Cina di wilayah Asia Tenggara sejak dulu sudah dikenal sebagai pedagang yang tangguh dan mendapatkan kemakmuran dari bisnis yang dikembangkannya. Orang-orang Cina yang berimigrasi ke suatu negara di wilayah Asia Tenggara dari Cina membawa serta kebiasaan-kebiasaan berdagang mereka untuk diaplikasikan di tempat tinggal baru mereka. Salah satu kebiasaan yang digunakan orang-orang Cina ini dalam berbisnis adalah dikembangkannya suatu jaringan bisnis yang di dalamnya terdapat orang-orang yang memiliki hubungan-hubungan tertentu karena adanya rasa saling percaya antara satu dengan yang lainnya. Melalui jaringan bisnis, orang-orang Cina yang ada di dalamnya mempergunakan jaringan bisnis ini untuk saling membantu dalam mendapatkan profit. Dalam jaringan bisnis ini terdapat satu elemen penting untuk membangun suatu hubungan yang sebenarnya bagi orang-orang barat cukup unik untuk dipakai dalam berbisnis, yaitu guanxi.

Guanxi adalah suatu fenomena yang sangat unik di dalam kegiatan bisnis orang-orang Cina. Meskipun sebenarnya guanxi atau yang mirip dengan hal itu juga dilakukan oleh banyak orang selain etnis Cina, namun pada umumnya pola guanxi atau yang mirip dengan hal tersebut dijauhkan dari bisnis. Model-model bisnis yang ada, terutama yang berasal dari barat, kebanyakan menekan dan menghilangkan kegiatan bisnis yang didasari atas hubungan tertentu seperti pada guanxi. Akan tetapi orang-orang Cina di berbagai tempat sampai sekarang terus menggunakan guanxi dalam kegiatan bisnisnya dan terbukti di berbagai tempat berhasil mendatangkan keuntungan dan menciptakan jaringan bisnis yang menguntungkan mereka.

I.2 Permasalahan

Guanxi adalah salah satu elemen terpenting ketika membicarakan jaringan bisnis Cina. Masih sering muncul perdebatan mengenai baik atau buruknya kegiatan bisnis yang didasari atas guanxi.

Pada kenyataanya melalui guanxi orang-orang Cina di berbagai negara, khususnya Asia Tenggara, telah berhasil membawa mereka ke arah kemakmuran. Meskipun demikian pada akhirnya banyak yang menganggapnya sebagai tindakan eksklusifisme, yaitu penyebaran keuntungan hanya untuk orang-orang yang berada di jaringan bisnis itu saja atau banyak “orang pribumi” yang mengartikannya sebagai penyebaran keuntungan hanya untuk orang-orang yang berasal dari etnis Cina saja. Di sinilah pemahaman mengenai guanxi yang ada di dalam jaringan bisnis Cina perlu diperhatikan dan dipelajari lebih jauh agar kita dapat memahami lebih jauh bagaimana sebenarnya orang-orang Cina berbisnis.

I.3 Batasan Masalah

Dalam tulisan ini penulis akan membatasi isi dari makalah ini hanya pada guanxi yang biasa dipergunakan orang-orang Cina dalam berbisnis. Jaringan bisnis Cina yang dimaksud dalam makalah ini adalah jaringan bisnis yang dikembangkan oleh orang-orang yang beretnis Cina baik yang ada di Cina maupun Asia Tenggara. Dalam makalah ini penulis memakai kata “orang-orang Cina” untuk merujuk pada orang-orang yang beretnis Cina yang tinggal di Cina maupun Asia Tenggara.

I.4 Tujuan

Tujuan dari ditulisnya makalah ini adalah untuk memaparkan apa yang dimaksud dengan guanxi dalam jaringan bisnis Cina. Dalam makalah ini akan dipaparkan bagaimana guanxi dapat berkembang di dalam jaringan bisnis Cina.

I.5 Metode Penulisan

Dalam makalah ini penulis menggunakan sistem penelitian kepustakaan dengan metode deskriptif analitis. Deskripsi analitis digunakan karena penulis berusaha mendeskripsikan masalah berdasarkan analisa yang dilakukan dari berbagai sumber-sumber sebelum diambil kesimpulan. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat makalah ini terdiri dari situs-situs internet yang memuat tulisan mengenai guanxi.

I.6 Sistematika Penulisan

Penulis selanjutnya akan menyajikan isi dari makalah ini menjadi 4 bagian, yaitu:

  1. Bab I: Pendahuluan
  2. Bab II: Guanxi Dalam Jaringan Bisnis Cina
  3. Bab III: Kesimpulan
  4. Daftar Acuan

=================================================

II. Guanxi (关系)Dalam Jaringan Bisnis Cina

Terdapat beberapa makna untuk mendefinisikan guanxi. Guanxi ( 关系, Pinyin: gūan xi) umumnya secara harfiah diartikan sebagai koneksi “connections” dan hubungan “relationship”. Kedua kata tersebut sebenarnya sudah sangat jelas menjelaskan apa yang dimaksud dengan guanxi.

Guanxi dapat pula diartikan sebagai hubungan dasar dalam suatu jaringan yang dipengaruhi oleh hubungan pribadi. Hubungan pribadi yang dimaksud dapat didasari bermacam-macam hubungan, seperti hubungan keluarga, hubungan pertemanan, hubungan alumni sekolah, dan masih banyak lagi yang dapat dijadikan dasar guanxi.

Terdapat beberapa ahli yang berusaha mendefinisikan guanxi, diantaranya adalah Yadong Luo dalam bukunya yang berjudul “Guanxi: Principles, Philosophies, and Implications”.

"The Chinese word 'guanxi' refers to the concept of drawing on connections in order to secure favors in personal relations. It is an intricate and pervasive relational network which Chinese cultivate energetically, subtly, and imaginatively. It contains implicit mutual obligation, assurance and understanding, and governs Chinese attitudes toward long-term social and business relationships.[1] (Luo Yadong: 1997)

Thomas W. Dunfee dan Danielle E Warren mendefinisikan guanxi dengan cara yang berbeda dengan cara menggabungkan pendapat beberapa ahli yang telah ada sebelumnya.

"The first step in determining the merits of guanxi as a business practice requires that we define it. Guanxi is not a precise term of art. Instead, it refers to a cultural phenomenon and, as such, has been described differently by various scholars. Scholarly descriptions of guanxi include "tight, close-knit networks" (Yeung and Tung, 1996, p. 54), "interpersonal connections" (Xin and Pearce, 1996, p.1641; Leung et al., 1996, p. 749), and a "gate or pass" (Yeung and Tung, 1996, p. 54). Tsui and Farh (1997, p. 59) remark "the literature (both Chinese and English) shows no consensus in the translation or definition of the term 'guanxi'. According to Bain (1994), guanxi could refer to one of three things: (a) the existence of a relationship between people who share a group status or are related to a common person, (b) actual connections with and frequent contact between people, and (c) a contact person with little direct interaction.[2] (Thomas W Dunfee; Danielle E Warren: 2001)

Ahli antropologi barat yang juga sempat menjadi dosen dan peneliti di Universitas Indonesia, Peter Verhezen, mendeskripsikan guanxi dengan membedakannya dari nepotisme.

Deeply rooted in the Confucian Chinese tradition, guanxi involves relationships between or among individuals, creating obligations for continued momentum of exchange and established trust and credibility. Revealing is the fact that quite a number of scholars agree that guanxi cannot be founded merely through the one-time payment of a coarse bribe. forth.[3] (Peter Verhezen: 2003)

Dari deskripsi-deskripsi yang dikemukakan beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa guanxi merupakan suatu konsep yang telah lama ada di Cina yang juga terpengaruh ajaran Konfusius mengenai hubungan antara dua orang atau lebih yang orang-orang yang berada di dalam hubungan ini dapat saling memberikan sesuatu yang menguntungkan (baik yang bersifat bisnis atau pun politik) karena adanya hubungan tertentu dan tidak akan memberikan bantuan dalam bentuk sama pada orang lain yang tidak memiliki hubungan ini. Dalam hubungan ini yang terjadi adalah hubungan jangka panjang dan tidak terjadi dalam momen tertentu saja. Dalam guanxi, hubungan yang terjadi adalah hubungan yang bersifat interpersonal.

Dalam guanxi terdapat saling pengertian yang bersifat umum. Jika terdapat seseorang yang berada di dalam guanxi memerlukan bantuan, maka orang lain yang ada di dalam guanxi itu secara otomatis memberikan bantuannya. Jika di masa mendatang orang yang sebelumnya memberikan bantuan memerlukan bantuan, maka orang yang sebelumnya dibantu akan secara otomatis memberikan bantuannya. Transfer ini akan terjadi secara terus menerus dalam bentuk sirkular selama hubungan guanxi ini terus terjaga.

Ahli-ahli sosiologi menghubungkan guanxi dengan konsep social capital yang juga dapat dijabarkan sebagai sebuah Gemeinschaft struktur nilai. Ketika akan membuka sebuah usaha bisnis, orang-orang Cina akan mencari modal untuk menjalankan bisnisnya. Di sini modal (capital) tidak hanya terbatas kepada uang dan barang saja, tetapi juga mencakup guanxi. Guanxi sangat diperlukan baik oleh antar orang Cina yang melakukan bisnis maupun orang yang tidak beretnis Cina melakukan hubungan bisnis dengan orang Cina.

Ketika melakukan bisnis, orang-orang Cina sangatlah memperhatikan guanxi. Guanxi kemudian menjadi salah satu elemen terpenting di dalam jaringan bisnis orang-orang Cina. Suatu jaringan bisnis tidak akan berkembang dan maju jika guanxi tidak diterapkan dengan baik oleh orang-orang Cina yang ada di dalam jaringan bisnis tersebut. Dalam kenyataannya hampir seluruh jaringan bisnis yang dikembangkan oleh orang Cina terjadi secara alamiah. Hal ini berkaitan dengan proses terciptanya jaringan bisnis Cina. Ada dua kemungkinan yang dapat menghubungkan jaringan bisnis dengan guanxi. Kemungkinan pertama yaitu terdapat suatu keterikatan antar orang karena adanya hubungan tertentu sehingga orang-orang tersebut menciptakan suatu jaringan berdasarkan hubungan yang telah mereka buat. Dari sini dapat terlihat terciptanya jaringan bisnis karena adanya guanxi. Kemungkinan kedua yaitu terdapat seseorang yang berusaha masuk ke dalam jaringan bisnis kemudian setelah masuk ke dalamnya memanfaatkan guanxi untuk kepentingan bisnisnya.

Pebisnis Cina kebanyakan mempunyai mental “Jika kau cakar punggungku, akan aku cakar punggungmu”. Dalam hal baik pun berlaku hal yang sama, “Jika seseorang membantuku, di masa datang pun akan akan kubalas budimu”. Dalam guanxi terjadi hal yang sama, hubungan saling membantu terjadi secara sukarela karena pada dasarnya dengan adanya hubungan saling membantu juga dapat memberikan keuntungan secara pribadi.

Orang-orang Cina perantauan yang ada di Asia Tenggara yang bergerak di bidang bisnis sangat memperhatikan guanxi. Di beberapa negara, orang-orang keturunan Cina hanya memiliki keleluasaan untuk berkembang hanya di sektor ekonomi. Hal ini menyebabkan orang-orang keturunan Cina ini kemudian berkembang dan menguasai sektor ekonomi di beberapa negara tersebut. Melalui guanxi, semua pengusaha Cina dapat terhubung meskipun berbeda negara. Pengusaha Cina di Indonesia dapat memiliki guanxi dengan pengusaha Cina yang berasal dari Malaysia. Hal ini menunjukan bahwa jaringan bisnis dengan guanxi di dalamnya dapat menembus batas wilayah mana pun. Di sinilah keunggulan jaringan bisnis Cina yang dapat mengembangkan sayapnya lintas negara bahkan lintas benua.

Hubungan keluarga dengan menjadikan nama marga sebagai pemersatu merupakan bentuk guanxi yang paling umum terjadi di antara pedagang Cina. Biasanya orang-orang Cina yang memiliki nama marga yang sama kemudian membentuk suatu jaringan bisnis dan di dalam jaringan bisnis tersebut terjadi interaksi guanxi. Umumnya orang Cina sangat erat rasa persaudaraannya. Nama marga mempererat persatuan dan amat membuka peluang kerja sama. Tak heran, orang Cina hanya mempercayakan usahanya kepada bangsa dan keluarganya sendiri.

Dapat dikatakan bahwa pengusaha Cina sedemikian percaya satu sama lain. Contohnya, konsumen tinggal menghubungi via telepon dan pedagang dengan cepat mengirim barang sesuai pesanan. Kejujuran dipegang teguh meski konsumen belum memberikan uangnya. Kegiatan yang terjadi sebenarnya adalah bukan antara pedagang dan konsumen, tetapi antarpedagang yang di dalamnya terdapat rasa saling percaya, terutama dalam hal kredit. Pengusaha Cina terkenal karena trust yang tinggi sehingga mereka dapat merebut peluang sekecil apa pun. Pada saat ada kesempatan dan modal yang diperoleh dengan cepat, mereka segera merebut kesempatan itu.

Trust (xinyong) antar pedagang Cina ini sangat menarik. Mereka sendiri memakai istilah guanxi (hubungan) guna menjelaskan gejala trust antar mereka. Guanxi ini sebenarnya tidak terbatas pada hubungan kekeluargaan saja. Hubungan-hubungan lain yang bisa menimbulkan guanxi misalnya kesamaan asal daerah (desa, kabupaten, provinsi), kesamaan sekolah (alumni), dan persahabatan.

Trust ini lain dibanding trust yang dibangun dalam institusi modern. Kehidupan modern, termasuk ekonomi, tidak bisa bertahan jika tidak ada trust. Dapat dikatakan trust di dunia modern diletakkan berdasar kepastian hukum. Namun trust di kalangan orang China dibangun atas dasar yang berbeda. Trust di kalangan orang China didasarkan kekeluargaan, kedaerahan, alumni sekolah, dan persahabatan.

Orang akan mengatakan, trust yang didasarkan atas hukum lebih ”terbuka” dibanding yang didasarkan faktor-faktor di atas. Tidak mungkin membangun trust dengan orang Cina jika bukan berasal dari keluarga, daerah, atau alumni sekolah. Masih ada peluang lain, lewat hubungan persahabatan (pengyou). Dalam banyak legenda dari Cina dilukiskan banyak hubungan persahabatan yang mengharukan. Sampai hari ini pun sering ditemukan banyak persahabatan antar orang Cina yang erat, bahkan sama atau melebihi hubungan dengan anggota keluarga.

Pembicaraan tentang trust dan guanxi sebenarnya menggugat semua teori hubungan transaksi yang didasarkan atas teori hubungan pasar. Dalam situasi pasar, semua individu adalah rival atau kompetitor yang bersaing, bahkan bersaing dengan tidak jujur. Karena itu, semua transaksi harus didasarkan atas secarik kertas yang berisi kontrak, hitam atas putih, yang dijamin negara sebagai pemegang alat pemaksa yang sah. Akibatnya orang menjadi musuh bagi orang lain. Hubungan keluarga, kedaerahan, sekolah, dan persahabatan, semua dianggap tidak relevan. Saudara dan saudara bisa saling menggugat di pengadilan, sahabat dan sahabat bisa terlibat pengadilan bertele-tele. Yang penting, kepentingan pribadi (self-interest) harus menang lewat kompetisi bengis di tengah pasar.

Kultur Cina justru mengajarkan kebalikannya. Boleh ada pasar, tetapi hubungan baik antarmanusia tetap jalan. Boleh ada persaingan, tetapi tolong-menolong antarkeluarga, orang sedaerah, satu alumni, dan sahabat tidak boleh dilupakan. Pasar selalu embedded, tidak mengalahkan guanxi. Bisa saja dikatakan hal ini akan menimbulkan nepotisme dan kolusi, tetapi dibuktikan empiris, guanxi mendukung pertumbuhan dahsyat ekonomi China.

Di Indonesia pun sebenarnya terdapat fenomena yang mirip. Kekeluargaan penting, kedaerahan, bahkan hubungan alumni juga penting. Lihat pasar-pasar di Jakarta yang didominasi berbagai suku, juga kantor-kantor pemerintah maupun swasta penuh alumni universitas tertentu. Semangat ”tolong-menolong” dan ”gotong royong” masih ada, belum hilang. Akan tetapi yang terjadi di Indonesia selalu dikhawatirkan dapat menimbulkan apa yang disebut korupsi, kolusi, dan neptisme (KKN). Hal ini sangat berbeda dengan pendapat kalangan orang Cina yang menganggapnya sebagai social capital.


III. Kesimpulan

Guanxi adalah elemen terpenting dalam berbisnis bagi kebanyakan orang-orang Cina. Ketika melakukan kegiatan bisnis, orang-orang Cina selalu memanfaatkan guanxi dalam jaringan bisnis yang telah mereka bentuk. Guanxi yang berarti connections dan relationships menjadi dasar orang-orang Cina dalam berbisnis. Ketika melakukan bisnis, guanxi dapat dianggap sebagai sebuah social capital yang peranannya sangat penting dalam mengembangkan bisnis. Selain uang dan barang, guanxi dapat diapakai untuk mengembangkan bisnis.

Sebenarnya fenomena ini tidak hanya terjadi pada orang-orang bertenis Cina karena di banyak daerah dengan penduduk aslinya (pribumi) yang juga menerapkan hal yang sama. Bedanya jika orang-orang Cina menganggap guanxi sebagai hal yang biasa dan bagian dari kultur sehingga dapat memanfaatkan guanxi dengan baik dalam suatu jaringan bisnis, orang-orang non-Cina cenderung memakai pola pikir barat yang menganggapnya tidak baik dan bagian dari KKN.

Terlepas dari bisa diterima atau tidaknya guanxi oleh orang-orang yang beretnis non-Cina, guanxi terbukti dapat menjadikan orang-orang Cina unggul dalam bidang ekonomi. Banyak dari mereka yang berhasil membangun jaringan bisnis yang kuat dan luas. Dalam jaringan bisnis tersebut guanxi menjadi sebuah kunci utama kesuksesan orang-orang yang berada di dalam jaringan bisnis tersebut.


IV. Daftar Acuan

- Guanxi Bases, Xinyong and Chinese Business Networks (penulis: Tong Chee Kiong & Yong Pit Kee)

- Chinese Capitalism: cultures, the Southeast Asia Region and Economic Globalization (penulis: Darryl Crawford)


Internet

  • http://en.wikipedia.org/wiki/Guanxi
  • http://chinese-school.netfirms.com/guanxi.html
  • www.exportinfo.org/region/articles/Guanxi.htm

Kesemua situs ini diunduh (download) pada hari Senin, tanggal 12 Juni 2006, Pukul 21.45 WWIB


[1] Luo Yadong. Guanxi: Principles, Philosophies, and Implications, Human System Management, Vol. 16, No. 1, 1997

[2] Thomas W Dunfee; Danielle E Warren. Is Guanxi Ethical? A Normative Analysis of Doing Business in China. Journal of Business Ethics;Vol.32, No.3, Aug 2001

[3] Peter Verhezen. From a culture of gift exchange to a culture of exchanging gifts, Jurnal Antropologi, University of Indonesia – Jakarta, November 2003, hal.101-115

4 comments:

  1. The 29th World Hakka Conference (WHC; konferensi ke 29 Hakka se-dunia) masih tetap mengedepankan prinsip Guanxi atau Guanshi (networking) berbisnis, mengingat filosofi penyebaran orang Hakka di berbagai negara di lima benua termasuk Afrika. “Pada konferensi, kami akan bahas berbagai peluang (bisnis), penguatan berbagai bentuk budaya Hakka. Seperti semangat Maritime Silk Road (jalur sutra Maritim), orang-orang Hakka tersebar (berimigrasi) ke berbagai negara di dunia termasuk Mauritius, negara-ngara di Samudera India, benua Afrika termasuk Asia Tenggara, khususnya lagi Indonesia,” YU Pang Chun, Co-chairman WHC mengatakan kepada Redaksi.
    Jalur Sutra Maritim telah dicanangkan Tiongkok untuk kerjasama internasional yang ditengarai supaya lebih melibatkan semua negara-negara sedang berkembang untuk saling berpartisipasi dalam membangun perekonomiannya. Dan mengimplementasikan pembangunan ekonomi di jalur damai dengan moto “Menerima harmoni dengan keragaman” atau bertoleransi dan harmoni dalam keragaman. “Kami tidak melulu meningkatkan networking orang Hakka, tapi juga memikirkan kondisi ekonomi dunia. Satu decade terakhir, ekonomi dunia agak melambat. Sekarang sudah mulai pulih, peran pebisnis Hakka di berbagai negara di dunia mengakselerasikan. WHC di Hongkong (12 – 15 Oktober 2017) ini menjadi kesempatan yang baik untuk semuanya.”

    ReplyDelete