....欢 迎 您 在 puksipuksi.blogspot.com............WELCOME at PUKSIPUKSI.BLOGSPOT.COM....

Friday, July 15, 2011

Kung Fu China

Kung Fu Cina merupakan perpaduan antara teori, dan praktek, dan menggabungkan teknik-teknik pertahanan diri dan juga untuk mendapatkan kesehatan yang baik.

Diperkirakan bahwa asal-usul Kung Fu Cina dapat ditelusuri kepada masyarakat kuno (purba). Pada waktu itu orang-orang menggunakan pentungan untuk melawan binatang buas dan mereka perlahan-lahan mendapatkan pengalaman dalam mempertahanankan diri. Selama Dinasti Shang, berburu dianggap sebagai bagian penting dari pelatihan Kung Fu.

Selama Dinasti Shang dan Zhou, seni bela diri berkembang menjadi semacam menari. Biasanya gerakan-gerakan menari dalam seni bela diri dimanfaatkan untuk melatih tentara dan meningkatkan moral. Selama Dinasti Zhou, seni bela diri menari ditetapkan sebagai komponen pendidikan. Penerapan teknik gulat di medan perang menerima banyak perhatian dari berbagai negara selama periode Musim Semi dan Gugur. Kaisar mengadakan kontes gulat dua kali setahun pada musim semi dan musim gugur untuk memilih eksponen terbaik dari seni bela diri. Pada saat yang sama, keterampilan dan teknologi dalam menempa pedang meningkat dan seni bela diri dengan menggunakan pedang berkembang pesat.

Wednesday, May 11, 2011

Puisi Tionghoa: Ganjue "感觉"

顾城

天是灰色的
路是灰色的
楼是灰色的
雨是灰色的

在一片死灰中
走过两个孩子
一个鲜红
一个淡绿

Tuesday, May 10, 2011

Makalah: Sejarah Orang Tionghoa di Indonesia


I. Kedatangan orang Tionghoa di Indonesia

Latar belakang

Bila sekarang kita lihat, terdapat banyak sekali warga negara Indonesia keturunan Tionghoa. Mereka adalah keturunan dari orang-orang Tionghoa yang sejak dulu telah merantau ke Nusantara. Banyak sekali orang Tionghoa yang datang ke Indonesia. Tentu terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi orang-orang Tionghoa tersebut sehingga membuat mereka tertarik untuk datang ke Nusantara.

Thursday, May 5, 2011

Disneyland Heroes of Our Times

Disneyland Heroes of Our Times
Oleh: Julia Suryakusuma


The Jakarta Post
Wed, 04 May 2011

Last week I went to see Opera Tan Malaka, which its author, Goenawan Mohamad, calls an "essay opera". I watched my first opera at the Budapest State Opera House, aged 8, and I still love it, so I was curious to know what an "essay opera" was, and to learn something about the man who inspired the whole thing.

Why Tan Malaka? He is usually considered a revolutionary hero, but I'm not sure why. A 20-year stint in exile left him a political outsider in Indonesia, and his life was fraught with failure. He was head of the Indonesian Communist Party (PKI) for three months (December 1921-February 1922), but they later came to hate him. In any case, he was soon arrested by the Dutch colonial government and exiled to Holland.

He went on to Germany, the USSR, China, the Philippines, Thailand, Burma (Myanmar) and only returned to Indonesia in 1942. There he formed the Murba Party in 1948, but that was somewhat of a flop as well, and he was shot dead in 1949 by Indonesian soldiers under mysterious circumstances.

Wednesday, May 4, 2011

Review: The Regionalization of Chinese Business Networks: A study of Singaporean Firms in Hainan China

Artikel berjudul The Regionalization of Chinese Business Networks: A study of Singaporean Firms in Hainan China yang ditulis oleh Chia-Zhi Tan dan Henry Wai-chung Yeung[1] berisi tulisan yang membahas besarnya peranan institusi sosial dan politik dibalik motivasi dan strategi investasi masyarakat Cina Singapura[2] dalam berinvestasi di Hainan, Cina. Investasi yang dilakukan oleh masyarakat Cina Singapura terpengaruh oleh adanya kebiasaan berbisnis orang-orang beretnis Cina untuk memakai jaringan bisnis Cina yang sangat menekankan pada koneksi (guanxi). Dalam artikel ini dapat dilihat bagaimana jaringan bisnis Cina sangat menentukan arah kebijakan investasi masyarakat Cina Singapura di Hainan. Peranan dari organisasi sosial masyarakat dan institusi pemerintah dalam strategi berinvestasi di Hainan pun dibahas pada artikel ini.

Bentuk usaha yang biasa dipakai oleh masyarakat Cina Singapura adalah firma.

Tuesday, May 3, 2011

Guanxi (关系)Dalam Jaringan Bisnis Cina

Guanxi (关系)Dalam Jaringan Bisnis Cina

(Oleh: Bai Faze)

I. Pendahuluan

I.1 Latar Belakang

Orang-orang Cina di wilayah Asia Tenggara sejak dulu sudah dikenal sebagai pedagang yang tangguh dan mendapatkan kemakmuran dari bisnis yang dikembangkannya. Orang-orang Cina yang berimigrasi ke suatu negara di wilayah Asia Tenggara dari Cina membawa serta kebiasaan-kebiasaan berdagang mereka untuk diaplikasikan di tempat tinggal baru mereka. Salah satu kebiasaan yang digunakan orang-orang Cina ini dalam berbisnis adalah dikembangkannya suatu jaringan bisnis yang di dalamnya terdapat orang-orang yang memiliki hubungan-hubungan tertentu karena adanya rasa saling percaya antara satu dengan yang lainnya. Melalui jaringan bisnis, orang-orang Cina yang ada di dalamnya mempergunakan jaringan bisnis ini untuk saling membantu dalam mendapatkan profit. Dalam jaringan bisnis ini terdapat satu elemen penting untuk membangun suatu hubungan yang sebenarnya bagi orang-orang barat cukup unik untuk dipakai dalam berbisnis, yaitu guanxi.

Guanxi adalah suatu fenomena yang sangat unik di dalam kegiatan bisnis orang-orang Cina. Meskipun sebenarnya guanxi atau yang mirip dengan hal itu juga dilakukan oleh banyak orang selain etnis Cina, namun pada umumnya pola guanxi atau yang mirip dengan hal tersebut dijauhkan dari bisnis. Model-model bisnis yang ada, terutama yang berasal dari barat, kebanyakan menekan dan menghilangkan kegiatan bisnis yang didasari atas hubungan tertentu seperti pada guanxi. Akan tetapi orang-orang Cina di berbagai tempat sampai sekarang terus menggunakan guanxi dalam kegiatan bisnisnya dan terbukti di berbagai tempat berhasil mendatangkan keuntungan dan menciptakan jaringan bisnis yang menguntungkan mereka.

I.2 Permasalahan

Guanxi adalah salah satu elemen terpenting ketika membicarakan jaringan bisnis Cina. Masih sering muncul perdebatan mengenai baik atau buruknya kegiatan bisnis yang didasari atas guanxi.

Friday, April 29, 2011

Budaya Tradisi Perkawinan Tionghoa di Teluknaga, Tangerang

Tradisi Upacara Perkawinan di Teluknaga

Dalam kitab sejarah Sunda yang berjudul “Tina Layang Parahyang” (Catatan dari Parahyangan) disebut tentang kedatangan orang Tionghoa ke daerah Tangerang. Kitab tersebut menceritakan tentang mendaratnya rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) di muara sungai Cisadane yang sekarang diberi nama Teluk Naga pada tahun 1407. Pada waktu itu pusat pemerintahan ada di sekitar pusat kota sekarang, yang diperintah oleh Sanghyang Anggalarang selaku wakil dari Sanghyang Banyak Citra dari Kerajaan Parahyangan. Perahu rombongan Halung terdampat dan mengalami kerusakan juga kehabisan perbekalan. Daerah tujuan yang semula ingin dikunjungi adalah Jayakarta.

Rombongan Halung ini membawa tujuh kepala keluarga dan diantaranya terdapat sembilan orang gadis dan anak-anak kecil. Mereka kemudian menghadap Sanghyang Anggalarang untuk minta pertolongan. karena gadis-gadis yang ikut dalam rombongan itu cantik-cantik, para pegawai Anggalarang jatuh cinta